Kehadiran tokoh olahraga dari cabang berbeda memberikan warna tersendiri dalam sebuah kejuaraan.
Dikutip pada tayangan kanal YouTube Jeje Corner, Mantan Pelatih Timnas Sepak Bola Indonesia Shin Tae-yong, tampak hadir memeriahkan ajang pacuan kuda bergengsi IHR Triple Crown Seri 1 dan Pertiwi Cup beberapa waktu lalu.
Diketahui perhelatan balap kuda tingkat nasional tersebut sukses terselenggara secara meriah di Stadion Sultan Agung, Kota Yogyakarta.
Kehadiran pelatih asal Korea Selatan itu memberi kesan tersendiri sekaligus magnet dalam ajang tersebut.
Kuda Seharga Klub Bola
Momen paling menarik dalam kunjungan tersebut terjadi ketika perbincangan mengenai harga seekor hewan pacu.
Dalam unggahan Instagram @jeje.corner_official, momen ini menyoroti pengakuan mengejutkan dari sang pelatih mengenai tingginya nilai investasi dalam olahraga Equestrian.
Shin Tae-yong mengungkapkan bahwa dirinya pernah melihat langsung seekor kuda yang dibanderol dengan harga mencapai 20 miliar rupiah.
Pengalaman melihat hewan dengan harga fantastis tersebut ia dapatkan saat sedang berada di Amerika Serikat.
Tingginya nilai jual kuda pacu tersebut memicu perbandingan yang menarik dengan dunia kulit bundar.

Shin Tae-yong. (Tangkapan layar/Instagram)
Nilai yang luar biasa besar ini bahkan disandingkan dengan besaran biaya yang dinilai sudah cukup untuk mengakuisisi atau membeli sebuah klub sepak bola secara utuh.
Sebagai perbandingan dengan kondisi di Tanah Air, pihak penyelenggara di lokasi turut menambahkan bahwa rekor penjualan kuda pacu tertinggi yang pernah tercatat di Indonesia saat ini baru menyentuh angka tiga miliar rupiah.
Taktik Serupa Sepak Bola
Selain dikejutkan oleh fakta harga kuda, momentum ini juga menjadi pengalaman perdana bagi sang pelatih untuk menyaksikan langsung sengitnya persaingan di lintasan balap.
Sebagai pengamat dari luar cabang olahraga equestrian, ia memberikan apresiasi tinggi terhadap tata kelola kompetisi yang dinilainya sangat rapi dan profesional.
Shin Tae-yong juga menyoroti dinamika perlombaan balap kuda yang menurutnya memiliki banyak kesamaan tak terduga dengan sepak bola.
Sang pelatih menekankan bahwa olahraga ini sangat bergantung pada penerapan taktik, terutama dalam mengatur momentum awalan serta mengontrol tempo lari agar stamina kuda tetap terjaga.










