”Kalau di Sulsel, tidak pernah kalah dia (Raja Permata). Makanya dia satu-satunya kuda yang mewakili Sulsel di ajang Kejurnas,”
Arena pacuan kuda Indonesia baru saja kehilangan salah satu talenta terbaiknya dengan cara yang memilukan.
Raja Permata, kuda pacu tangguh asal Sulawesi Selatan, menjadi salah satu korban dalam insiden terbakarnya Kapal Motor Passenger (KMP) Mutiara Sentosa 2 di Perairan Utara Sumenep, Madura, Jawa Timur, pada Minggu (2/8/2026).
Kuda keturunan Damsyik Nagari x Beauty Kanonang yang lahir pada 20 Mei 2022 tersebut terjebak di dalam kapal saat dalam perjalanan pulang menuju kampung halamannya, bersama puluhan ekor kuda lainnya.
Tahun 2026 sebenarnya menjadi babak baru yang penuh harapan bagi Raja Permata. Sejak Februari, kuda bertinggi ideal 154 cm ini mulai menginjakkan kaki di Pulau Jawa untuk menguji ketangguhannya di ajang Indonesia’s Horse Racing (IHR) maupun kejuaraan regional. Berkompetisi di Kelas C (batas tinggi 151–156 cm), Raja Permata dikenal sebagai penantang tangguh yang sanggup melahap jarak hingga 1.600 meter.
Selama tujuh bulan berpetualang di Pulau Jawa, Raja Permata tercatat lima kali turun ke lintasan balap. Memulai debut dengan manis sebagai juara ke-4 di Jateng Derby 2026, ia mencapai puncak prestasinya di akhir Maret 2026 saat menyabet gelar juara pertama di Kelas Terbuka 2.000 meter pada ajang Bupati Kebumen Cup.
Seminggu setelahnya, ia kembali naik podium sebagai juara ke-3 di IHR Triple Crown Seri 1 & Pertiwi Cup.
Penampilan terakhirnya terjadi di panggung megah Indonesia Derby 2026 di Pangandaran, Minggu (26/7/2026). Meski sempat memimpin di barisan depan hingga tersisa 400 meter akhir, Raja Permata harus puas finis di posisi ke-6 setelah berjuang keras melawan cedera.
Tak ada yang menyangka, deru langkah kencangnya di Pangandaran hari itu menjadi kali terakhir ia berlari di atas tanah lintasan.
Pemilik Raja Permata yang juga Kepala Desa Kayu Loe Timur, H. Lelong Azis, memendam duka mendalam.
Rencananya, ia memboyong kembali kuda kesayangannya itu ke Jeneponto untuk beristirahat dan memulihkan cedera, sebelum nantinya disiapkan menuju Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Seri 2 di Tompaso, Sulawesi Utara, Oktober mendatang.
Selain Raja Permata, Azis juga membawa enam ekor kuda ternak lainnya dalam pelayaran tersebut.
”Kalau di Sulsel, tidak pernah kalah dia (Raja Permata). Makanya dia satu-satunya kuda yang mewakili Sulsel di ajang Kejurnas,” kata Azis.
Azis mengaku memperoleh informasi, jika terdapat sekitar 40 ekor kuda yang ikut diangkut KM Mutiara Sentosa 2 saat insiden kebakaran terjadi. Di antara puluhan kuda tersebut, tujuh ekor merupakan miliknya. Enam ekor dibeli dari Pulau Jawa untuk dibawa ke Jeneponto, sedangkan satu lainnya adalah Raja Permata, kuda pacu andalannya.
Kini, derap langkah sang jagoan Sulawesi Selatan itu telah senyap. Raja Permata tidak hanya meninggalkan catatan prestasi yang membanggakan, tetapi juga kenangan manis tentang seekor kuda tangguh yang pernah berlari sepenuh hati mengejar mimpi di tanah Jawa.





