“Berkuda sejak kelas 1 SMP, karena awalanya coba coba ekskul di pondok, ternyata ketagihan, dan usia saat ini 18 tahun,”
Awal mula sebuah hobi sering kali datang dari ketidaksengajaan. Hal itulah yang dialami oleh Salman Anindya Rifa’i.
Langkah perdananya menunggang kuda dimulai saat ia mencoba ekstrakurikuler berkuda sewaktu menduduki kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di pondok pesantren.
Siapa sangka, kegiatan yang berawal dari sekadar coba-coba tersebut justru memantik minat mendalam hingga mengantarkannya menjadi salah satu seorang rider equestrian berbakat.
Pemuda yang kini genap berusia 18 tahun ini berasal dari Cirebon, tetapi aslinya dari Bekasi kini bernaung di Dez Stable, yang berada di Kuningan Jawa Barat.
“Berkuda sejak kelas 1 SMP, karena awalanya coba coba ekskul di pondok, ternyata ketagihan, dan usia saat ini 18 tahun,” kata Salman kepada Berkudanews.
Dedikasi Salman tercermin dari jajaran ajang perlombaan yang telah ia jajali, khususnya di kategori show jumping.
Kerap disapa Salman, ia sudah melintasi berbagai rintangan dalam rentetan ajang bergengsi, seperti Aswayudha Jateng Seri 1 (50cm U16), Seri 2 (70cm U16), dan Seri 3 (70cm U16) membawa nama Bukhari Stud.
Tidak berhenti di situ, jam terbangnya kian bertambah yakni pada ajang JABAR Classic 2025 (50cm Open & 60cm Open) serta JJ All Star (50cm, 60cm, dan 70cm Open) dengan membawa bendera Dez Stable.
Kerja keras dan konsistensi di arena pun membuahkan hasil manis. Di usia muda, Salman telah mengantongi sejumlah raihan prestasi, di antaranya sebagai berikut:
- Juara 3 Show Jumping 30-50cm U16 – Optimum Time (Bukhari Stud)
- Juara 5 Show Jumping 50cm Open – Speed Class (Dez Stable)
- Juara 6 Show Jumping 60cm Open – Accumulator (Dez Stable)
- Juara 12 Show Jumping 60cm Open – Speed Class (Dez Stable)
Bagi Salman, setiap rintangan yang dilompati di arena bukanlah akhir, melainkan pijakan untuk terus berkembang.
Menatap masa depan, ia membawa impian yang mulia untuk terus menempuh proses, meningkatkan kemampuan diri, dan berharap suatu hari nanti dapat berlaga di tingkat nasional serta membela nama daerahnya sebagai bagian dari kontingen.
“Terus menjadi rider yang berkembang dan lebih baik dari sebelumnya, syukur syukur bisa sampe level nasional atau mewakili kontingen,” imbuhnya.





