“Buat saya yang paling penting dari setiap pertandingan dan prestasi yang pernah saya dapet itu adalah pengalaman dan proses belajarnya sih,”
Atlet equestrian Cacu Cantiwa (28), berkuda bukan sekadar perkara meraih podium tertinggi. Pemuda yang kini bernaung di bawah klub Arthayasa Stable ini menegaskan bahwa nilai terpenting dari setiap kejuaraan yang ia ikuti adalah pengalaman dan proses pembelajaran di dalamnya.
Meski mengutamakan proses, prestasi Cacu di kancah nasional tidak dapat dipandang sebelah mata. Ia telah memiliki terbang tinggi dalam berbagai kompetisi nasional, termasuk keberhasilannya menyabet medali perak pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024 lalu.
“Buat saya yang paling penting dari setiap pertandingan dan prestasi yang pernah saya dapet itu adalah pengalaman dan proses belajarnya sih,” katanya kepada Berkudanews, Rabu (3/6/2026).
Cacu mengungkapkan, perjalanan dirinya di dunia berkuda dimulai sejak duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar (SD) sekitar tahun 2008.
Ia pertama kali mengenal olahraga berkuda melalui sang paman yang merupakan seorang anggota TNI sekaligus pelatih berkuda di Detasemen Kavaleri Berkuda (Denkavkud), Parongpong, Bandung Barat.
Ketertarikannya kian tumbuh karena sekolah tempatnya menimba ilmu saat itu menyediakan kegiatan ekstrakurikuler berkuda.
Bagi Cacu, olahraga berkuda equestrian memiliki keunikan tersendiri yang sangat menantang jika dibandingkan dengan cabang olahraga lain.
”Olahraga ini sangat berbeda dan seru. Kita tidak hanya berlatih sendiri secara fisik, tetapi juga harus mampu membangun kedekatan emosional (chemistry) dengan kuda yang kita tunggangi,” ujar Cacu.
Saat ditanya mengenai target masa depan, Cacu mengaku ingin terus berkembang dan meraih impian-impiannya yang belum terwujud di dunia equestrian.
Menariknya, ia memandang karier sebagai seorang penunggang (rider) tidak dibatasi oleh usia, melainkan oleh kemampuan fisik masing-masing individu.
Cacu pun telah memiliki visi jangka panjang untuk tetap berkontribusi di dunia berkuda, bahkan ketika nanti tidak lagi aktif sebagai atlet.
”Bagi saya, menjadi rider itu bisa sampai kapan pun selagi fisik masih mampu. Ke depannya, saya ingin tetap berada di dunia berkuda, mungkin sebagai pelatih untuk membantu para penunggang muda, atau menjadi pemilik klub (owner) agar bisa terus memajukan olahraga equestrian di Indonesia,” pungkasnya.









