“Selama ini kita berkutat pada kuda pelana. Sementara di Sumba, hampir semua masyarakat terbiasa dengan kuda tanpa pelana. Ini potensi yang belum dimanfaatkan,”
Ketua Pordasi NTT, Umbu Rudi Kabunang mengusulkan agar pacuan kuda tanpa pelana ditetapkan sebagai cabang olahraga resmi dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).
Adapun usulan itu didorong oleh potensi besar yang dimiliki masyarakat Sumba dalam tradisi berkuda.
Saat ini, kuda asli sumba yang di pacu tanpa pelana sudah masuk sebagai bagian dari cabang olahraga PON.
Umbu mengatakan, selama ini pembinaan dan kompetisi pacuan kuda di tingkat nasional lebih berfokus pada kuda dengan pelana.
Padahal di Sumba, praktik berkuda tanpa pelana merupakan bagian dari budaya sekaligus kekuatan utama yang belum terakomodasi dalam sistem olahraga nasional.
“Selama ini kita berkutat pada kuda pelana. Sementara di Sumba, hampir semua masyarakat terbiasa dengan kuda tanpa pelana. Ini potensi yang belum dimanfaatkan,” kata Umbu Rudi dikutip Jumat (1/5/2026).
Ia menjelaskan, gagasan tersebut telah dibicarakan dengan pengurus organisasi pacuan kuda di tingkat pusat dan akan diajukan secara resmi melalui pemerintah daerah hingga ke tingkat nasional.
Menurutnya, daerah memiliki ruang untuk mengusulkan cabang olahraga baru dalam PON.
Selain sebagai upaya meningkatkan prestasi olahraga, Umbu menilai pengakuan terhadap pacuan kuda tanpa pelana juga akan memperkuat identitas budaya lokal dalam panggung nasional.
Lebih lanjut, ia menyoroti keunggulan Sumba dalam hal jumlah dan kualitas kuda.
Dalam satu kegiatan pacuan, jumlah kuda yang dilibatkan di Sumba dapat mencapai ratusan hingga lebih dari seribu ekor, jauh melampaui daerah lain.
“Di beberapa negara atau daerah lain mungkin hanya ratusan, tetapi di Sumba bisa lebih dari seribu. Ini menunjukkan kapasitas yang kita miliki,” ujarnya.
Umbu menambahkan, terkait potensi dampak ekonomi yang akan muncul apabila cabang olahraga tersebut masuk dalam PON. Kehadiran peserta dari berbagai daerah dinilai dapat menggerakkan sektor usaha masyarakat, seperti penyediaan pakan, kandang, hingga akomodasi.
“Jika ini terealisasi, akan ada perputaran ekonomi yang signifikan di daerah,” imbuhnya.









