“Menjadi atlet berkuda menurut saya adalah jalan hidup, karena dasarnya saya mencintai binatang dan beruntung saya tinggal di rumah sekaligus menjadi stable saya jadi bisa setiap saat berinteraksi dengan hewan-hewan spesial ini,”
Dunia berkuda Indonesia terus melahirkan talenta yang tidak hanya mengandalkan kemahiran teknis, tetapi juga kedalaman filosofi. Salah satu sosok yang kini tengah membangun momentum adalah Galih Rasiono, atau yang akrab disapa Galih atau MasGal.
Di usianya yang menginjak 34 tahun, Galih telah memantapkan langkahnya di disiplin Eventing, sebuah cabang equestrian yang menguji nyali dan harmoni antara manusia dengan kuda.
Bagi Galih, menjadi seorang atlet berkuda bukanlah sekadar profesi atau pengisi waktu luang, melainkan sebuah jalan hidup. Kecintaannya yang murni terhadap binatang menjadi bensin utama yang menggerakkan dedikasinya selama ini.
Ia memandang kuda bukan sebagai sarana olahraga semata, melainkan rekan jiwa yang menemaninya dalam setiap rintangan yang dihadapi di lapangan.
Saat ini, ia merupakan pemilik dari Andiga Equestrian, sebuah stable yang berlokasi di Cibubur. Tinggal di rumah yang sekaligus menjadi tempat bermukim kuda-kuda spesialnya membuat Galih memiliki kemewahan, untuk berinteraksi dan memantau kondisi hewan kesayangannya setiap saat tanpa sekat.
“Menjadi atlet berkuda menurut saya adalah jalan hidup, karena dasarnya saya mencintai binatang dan beruntung saya tinggal di rumah sekaligus menjadi stable saya jadi bisa setiap saat berinteraksi dengan hewan-hewan spesial ini,” katanya kepada berkudanews, Kamis (30/4/2026).
Interaksi yang intens setiap hari di Andiga Equestrian ini membangun ikatan batin yang sangat kuat. Sebagai atlet yang aktif turun di disiplin Eventing bersama kuda-kuda pribadinya, Galih memahami bahwa kesuksesan di arena sangat bergantung pada tingkat kepercayaan antara rider dan kudanya. Kedekatan inilah yang menjadi modal utamanya dalam menghadapi kompetisi yang penuh tantangan.
Namun, kiprah Galih tidak hanya berputar di sekitar Cibubur saja. Ia dikenal sebagai sosok yang aktif dalam pengembangan ekosistem berkuda di Indonesia. Galih kerap melakukan perjalanan ke Samarinda, Kalimantan Timur, untuk memberikan pelatihan bagi kuda maupun para atlet lokal.
Disisi lain, melihat fenomena menjamurnya stable yang baru terus bermunculan, Galih pun menyimpan harapan besar terhadap dunia berkuda di Indonesia.
“Semoga federasi bisa memfasilitasi course atau training untuk pelatih-pelatih di Indonesia agar kualitasnya bisa sesuai standard, dan semoga federasi bisa memfasilitasi sarana untuk base pelatihan cross country seperti lapangan dan rintangan,” tuturnya.
Tak hanya itu, Galih juga mempunyai keinginannya yang kuat untuk membawa Merah Putih ke kancah internasional.
“Saat ini usia saya 34 tahun. Target khusus untuk karier berkuda saya semoga suatu hari dapat mewakili indonesia dalam event international,” imbuh dia.









