Dunia pacuan kuda dan breeding tanah air kehilangan salah satu figur pentingnya. Touareq, kuda pejantan Thoroughbred Indonesia yang telah bertahun-tahun memberi kontribusi besar bagi regenerasi kuda pacu nasional, menghembuskan napas terakhirnya di usia 22 tahun.
Dilansir dari SARGA.CO, pemilik Berkah Stud & Racing Stable, Ibnu Faris menjelaskan, bahwa kondisi fisik Touareq memang berangsur menurun belakangan ini akibat faktor usia yang tak lagi muda.
Pinggang dan pinggul kirinya mulai melemah, disertai penyusutan otot yang membuat sang legenda perlahan kehilangan tumpuan.
Setelah sempat kesulitan berdiri seimbang dan hanya bisa berbaring, Touareq akhirnya menyelesaikan perjalanan panjangnya karena sakit.
Bagi Berkah Stud & Racing Stable, Touareq bukan sekadar kuda pejantan. Perjalanan bersama Touareq dimulai pada tahun 2015, di masa ketika Sumatera Barat tengah mengalami krisis pejantan. Didatangkan setelah sebelumnya sempat berpindah kepemilikan dari Pamulang hingga Tegalwaton, Touareq yang merupakan keturunan dari pejantan P. Sabeil (NZ) dan indukan Star Sovereign (ID) ini langsung menjadi tumpuan utama program pembiakan di Berkah Stud.
Meski kini fisik sang pejantan telah tiada, nafas perjuangannya dipastikan tidak berhenti. Touareq meninggalkan warisan yang amat berharga berupa keturunan-keturunan tangguh yang kini mewarnai berbagai kandang dan lintasan pacuan nasional.
Nama-nama seperti Sir Orbit, Guti Spirit, Nilam Bukati, Cahaya Delima, hingga yang terbaru Zara Dynamite, adalah bukti nyata dari garis darah unggul yang ia turunkan.
Kepergian Touareq di usia 22 tahun menandai akhir dari pengabdian panjangnya. Namun, jejak dan nama besarnya akan terus hidup serta berlari kencang melalui generasi-generasi penerusnya di panggung pacuan kuda Indonesia.






