Indonesia’s Horse Racing (IHR) Triple Crown Serie 1 & Pertiwi Cup 2026 rampung digelar pada 4 April 2026 lalu, namun usainya acara tersebut rupanya tak luput dari drama tak terduga pada Kelas 2 Tahun Pemula A/B Divisi I jarak 1.200 meter.
Dalam video ringkasan pertandingan yang diunggah kanal YouTube IHR baru-baru ini, Kuda Paco Eclipse, yang dipacu oleh joki andalan Miekel Soleran, secara resmi dinyatakan sebagai pemenang setelah hasil balapan mengalami perubahan signifikan di meja Dewan Steward.
Keputusan ini diambil menyusul insiden krusial yang terjadi di lintasan lurus menuju garis finis.
Awalnya, kuda Kartika Mening dengan joki Valentino Wongkar melintasi garis finis di posisi terdepan.
Namun, euforia kemenangan tersebut tidak bertahan lama karena tim pelatih dan pemilik Paco Eclipse segera melayangkan protes resmi.
Mereka menilai ada pelanggaran teknis yang dilakukan oleh rival terdekatnya tersebut yang merugikan laju lari Paco Eclipse di momen-momen kritis menjelang akhir balapan.
Berdasarkan tinjauan rekaman video balapan (head-on) dan pengamatan langsung, Dewan Steward melakukan sidang kilat untuk mengevaluasi kejadian tersebut.

Hasil investigasi menunjukkan bahwa joki Valentino Wongkar yang menunggangi Kartika Mening terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pergerakan yang memotong jalur lari Paco Eclipse.
Tindakan ini dinilai menghalangi ruang gerak Miekel Soleran sehingga membahayakan keselamatan serta menghambat momentum pacu kuda lawan.
Keputusan resmi Dewan Steward sesuai dengan regulasi balap kuda nasional yang berlaku, Dewan Steward akhirnya menjatuhkan sanksi diskualifikasi terhadap Kartika Mening.
Dengan dianulirnya posisi Kartika Mening, Paco Eclipse secara otomatis naik ke peringkat pertama.
Keputusan ini bersifat final dan mengikat, menegaskan komitmen penyelenggara terhadap sportivitas dan aturan main yang ketat di atas lintasan pacu.
Sebagai kuda di kelas 2 Tahun Pemula, performa Paco Eclipse menunjukkan potensi besar untuk mendominasi seri-seri berikutnya.
Pemilik kuda dan tim stable tampak puas dengan hasil ini, mengingat persiapan matang yang telah dilakukan.
Kasus diskualifikasi ini menjadi pengingat bagi seluruh joki dan pemilik kuda bahwa ketangkasan di lintasan harus selalu dibarengi dengan kepatuhan penuh terhadap kode etik balapan demi menjaga integritas olahraga berkuda di Indonesia.









