Sejarah pacuan kuda tingkat Nasional mencatat nama Djohar Manik sebagai salah satu legenda terbesar di Tanah Air.
Pada kompetisi musim balap 2014, kuda tangguh ini sukses mencetak sejarah bergengsi dengan merengkuh gelar tertinggi Triple Crown Indonesia.
Mengutip tayangan wawancara dokumenter dari kanal YouTube @Indonesia’s Horse Racing, kesuksesan mutlak tersebut tidak lepas dari kejeniusan taktik sang joki, Jendri Turangan.
Bersama Jendri, Djohar Manik yang berlaga membela bendera Tombo Ati Stable tampil mendominasi di atas lintasan pacu.
Perjalanan menuju takhta elit tersebut diawali dengan performa meyakinkan di seri pembuka.
Pada ajang Triple Crown Seri 1 dengan jarak lintasan 1.200 meter, Djohar Manik sukses memimpin perlombaan sejak garis awal dan mengunci kemenangan dengan margin jarak yang sangat jauh.
Konsistensi kecepatan kuda legendaris tersebut kembali dibuktikan pada ajang lanjutan Triple Crown Seri 2.
Berpacu pada jarak menengah 1.600 meter, sang joki menuturkan bahwa kudanya berlari seolah tanpa hambatan berarti untuk kembali mengamankan posisi puncak balapan.
Ujian mental dan teknis sesungguhnya baru terjadi pada laga penentu atau ajang Indonesia Derby.

Memulai balapan dari gerbang nomor 11, Djohar Manik sempat terkena gangguan fisik yang tak terhindarkan hingga mengakibatkan pijakan kaki sang joki terlepas dari sanggurdi.
Di tengah situasi kritis dan berada di barisan belakang tersebut, Jendri mengambil keputusan taktis untuk meredam kepanikan sang kuda.
Ia membiarkan kudanya berlari santai menjaga ritme untuk menyimpan tenaga ekstra sebelum melakukan manuver balasan pada momen yang tepat.
Memasuki sisa jarak 600 meter menuju garis akhir, kuda istimewa ini secara mengejutkan memacu kecepatan penuhnya dan langsung menyapu bersih posisi terdepan.
Manuver tidak terduga tersebut memastikan Djohar Manik menyentuh garis finis pertama sekaligus merengkuh trofi Triple Crown 2014.
Jendri Turangan mengakui bahwa tingkat kecerdasan dan fleksibilitas Djohar Manik yang mampu berakselerasi tajam dari posisi tertinggal sangat langka di dunia pacuan.
Kemenangan dramatis tersebut secara resmi menetapkan Djohar Manik sebagai legenda kuda pacu nasional yang mencetak rekor tak terlupakan.








