”Cedera akibat ditabrak motor memang memerlukan waktu untuk pulih sepenuhnya. Rasanya kasihan kalau harus dipaksakan untuk dilatih dan bertanding lagi. Jadi, diputuskan untuk fokus ke jalur breeding saja,”
Langkah cepat yang dulu menghiasi lintasan balap kini memasuki babak baru. Mayo, kuda betina berusia empat tahun yang sempat menyita perhatian di panggung Indonesia’s Horse Racing (IHR), resmi mengakhiri kariernya sebagai kuda pacu.
Kuda merah keturunan Da Vinci Eclipse x Manjusha ini kini memulai peran barunya sebagai kuda indukan untuk Miranda Stable di Tompaso, Sulawesi Utara.
Dilansir dari Sarga.co, kepastian ini disampaikan langsung oleh sang pemilik, Adhi B. Supit. Ia mengonfirmasi bahwa Mayo telah menjalani proses perkawinan pertamanya dengan pejantan Manado Eclipse. Keputusan untuk memensiunkan Mayo tak lepas dari dinamika perjalanan kariernya yang penuh lika-liku.
Pada musim balap Derby 2026, Mayo sebenarnya berada dalam jajaran kuda paling potensial untuk kelas utama usia tiga tahun. Bersama joki Jones Paendong, gaya larinya yang fleksibel dan meyakinkan sempat mencuri perhatian para pecinta olahraga berkuda tanah air.
Ketangguhan itu terbukti secara nyata saat Mayo menjuarai race Kelas 3 Tahun Calon Derby Divisi I pada Kejurnas PORDASI ke-59 Seri II 2026. Melintasi jarak 1.400 meter, ia tampil dominan dan mengungguli sejumlah nama besar yang belakangan menjadi penantang utama Indonesia Derby 2026, seperti Suntora Berjaya dan Nara Eclipse.
Sayangnya, takdir berkata lain. Masalah cedera kaki memaksa Mayo menepi untuk menjalani proses pemulihan panjang hingga harus melewatkan laga Triple Crown Seri 1 dan Seri 2.
Harapan sempat kembali berembus ketika Mayo mulai menjalani persiapan menjelang Indonesia Derby 2026 sekitar bulan Juni lalu.
Namun, musibah kembali menghampiri. Kecelakaan lalu lintas akibat tertabrak sepeda motor membuat Mayo mengalami cedera susulan yang memupus mimpinya untuk tampil di panggung terbesar dalam kariernya tersebut.
Pertimbangan kesehatan dan kesejahteraan sang kuda akhirnya menjadi alasan utama di balik keputusan besar Miranda Stable. Adhi menuturkan bahwa memaksa Mayo kembali berlatih dan bertanding hanya akan memberi beban fisik yang terlalu berat.
”Cedera akibat ditabrak motor memang memerlukan waktu untuk pulih sepenuhnya. Rasanya kasihan kalau harus dipaksakan untuk dilatih dan bertanding lagi. Jadi, diputuskan untuk fokus ke jalur breeding saja,” ungkap Adhi.
Meski langkahnya di lintasan balap harus terhenti lebih awal, kisah Mayo belum berakhir. Dari tanah Tompaso, perjalanan barunya baru saja dimulai harapan kini tertuju pada keturunannya kelak yang diimpikan meneruskan semangat dan ketangguhan sang indukan di masa depan.







