“Ketika merawat atau grooming kuda sendiri, saya menjadi semakin kenal dengan karakter kuda tersebut,”
Bagi sebagian orang, olahraga berkuda equestrian mungkin hanya seputar kecepatan dan ketepatan melompati rintangan.
Namun bagi Salman Anindya Rifa’i, penunggang muda berusia 18 tahun, olahraga equestrian justru terletak pada hubungan batin antara rider dan sang kuda.
Salman meyakini bahwa kunci utama penampilan yang solid di lapangan berawal dari proses perawatan harian atau grooming.
Pemuda asal Bekasi yang kini tinggal di Cirebon itu mengatakan, ia terjun di dunia equestrian dimulai saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler berkuda di Pesantren Imam Bukhari yang berlokasi di Karanganyar, Jawa Tengah.
Kala itu, ia sering dipasangkan dengan Berlin, kuda senior berusia 17 tahun.
Di sanalah Salman tidak hanya mengasah teknik menunggang, tetapi juga dilatih cara merawat kuda secara mandiri.
Menurutnya, momen membersihkan dan merawat kuda sendiri memberikan ruang untuk membaca dan memahami karakter unik yang dimiliki hewan tersebut.
“Ketika merawat atau grooming kuda sendiri, saya menjadi semakin kenal dengan karakter kuda tersebut,” kata Salman kepada Berkudanews.
Proses belajar itu membawanya ke pengalaman kompetisi yang tak terlupakan. Turun di kategori Show Jumping 30-50 cm pada ajang Aswayudha Jateng 1 bersama Berlin, Salman berhasil mengamankan podium ketiga, sebuah pencapaian di luar dugaannya yang makin memicu semangatnya di dunia berkuda.
Seiring berjalannya waktu, Salman melanjutkan langkahnya bersama Dez Stable yang berbasis di Kuningan, Jawa Barat.
Kebiasaan merawat kuda setelah latihan tetap ia jaga, termasuk saat menunggangi dua kuda yakni Lyora berpostur 161 cm berusia 5 tahun, serta Tanggo, kuda tangguh berpostur 139 cm berusia 6 tahun.
Bersama Lyora dan Tanggo, Salman memberanikan diri terjun ke dua ajang kompetisi di Jawa Barat.
Kompetisi di wilayah ini diakuinya tergolong ketat, terlebih Dez Stable termasuk pendatang baru di ranah kompetisi equestrian lokal.
Namun, tantangan tersebut justru membentuk mental bertandingnya.
”Momen paling berkesan dua kuda tersebut adalah kuda yang saya tunggangi selama mengikuti 2 event di Jawa Barat , yang mana menurut saya persaingan disana lebih ketat dan stable saya saat itu Dez Stable belum lama turun di dunia equestrian,” kata dia.
Disisi lain, ia juga mengungkapkan tantangan dalam berkuda equestrian. Menurutnya, seringnya berpindah tempat latihan harus kembali menyesuaikankan dengan kuda yang ia tunggangi.
“Karena setiap kuda memiliki karakter yang berbeda dan kurangnya jam terbang turun kompetisi,” tutupnya.






