Kuda pacu andalan Kabupaten Gayo Lues (Galus), Classic Dancer, sukses mencuri perhatian pada ajang Pacuan Kuda Tradisional Gayo 2026 setelah tampil impresif dan keluar sebagai juara di kelas C Sprinter 1.200 Meter (Classic).
Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Gayo Lues karena mampu mengharumkan nama daerah di tengah persaingan sengit yang diikuti ratusan peserta.
Kejuaraan tahunan yang berlangsung di Gelanggang HM Hasan Gayo, Blang Bebangka, Kabupaten Aceh Tengah, menjadi panggung bagi kuda-kuda terbaik dari wilayah Dataran Tinggi Gayo untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Dalam perlombaan tersebut, Classic Dancer berhasil tampil konsisten sejak awal hingga garis finis dan mengungguli para pesaing dari berbagai kabupaten.
Persaingan di kelas C Sprinter berlangsung cukup ketat karena diikuti kuda-kuda pilihan yang telah memiliki pengalaman di berbagai kejuaraan.
Namun Classic Dancer mampu mempertahankan kecepatan dan ritme larinya sehingga berhasil finis di posisi pertama dan meraih gelar juara.
Kuda milik Hanafi G atau yang akrab disapa Tekon dari Minang Stable itu sejak awal memang menjadi salah satu unggulan.
Persiapan yang matang serta performa yang stabil membuat Classic Dancer mampu memenuhi ekspektasi dan tampil dominan sepanjang perlombaan.
Keberhasilan tersebut sekaligus menjadi pencapaian penting bagi kontingen Gayo Lues yang hanya menurunkan 10 ekor kuda pada ajang Pacuan Kuda Tradisional Gayo 2026.
Meski jumlah peserta dari Gayo Lues tidak sebanyak daerah lain, mereka tetap mampu menunjukkan daya saing melalui penampilan gemilang Classic Dancer yang sukses naik ke podium tertinggi.
Diketahui, Perhelatan budaya dan olahraga terbesar masyarakat dataran tinggi Gayo, Pacuan Kuda Tradisional Gayo, resmi berakhir pada Minggu (14/6/2026).
Acara tahunan yang berlangsung selama sepekan ini sukses digelar di Gelanggang Pacuan Kuda H.M. Hasan Gayo, Blang Bebangka, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.
Tahun 2026 ini, penyelenggaraan mengusung tema “Solidaritas untuk Gayo: Gayo Pulih, Gayo Bangkit”. Tema tersebut membawa makna mendalam sebagai momentum penting, untuk mempererat persatuan masyarakat sekaligus membangkitkan semangat bersama pascabencana yang melanda wilayah Aceh Tengah pada akhir tahun 2025 lalu.
Sepanjang pelaksanaan acara, antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi. Ribuan penonton memadati arena pacuan untuk menyaksikan para joki muda memacu kuda-kuda terbaiknya menuju garis finis.
Sorak-sorai penonton yang memenuhi gelanggang menjadi gambaran nyata betapa kuatnya kecintaan masyarakat terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini.
Pacuan Kuda Tradisional Gayo menjadi lebih dari sekadar perlombaan. Kegiatan ini menjadi simbol ketangguhan dan semangat masyarakat Gayo untuk bangkit dari masa-masa sulit.
Selain menjadi sarana pelestarian budaya yang berharga, kegiatan ini terbukti memberikan dampak positif yang signifikan terhadap sektor ekonomi. Kehadiran ribuan pengunjung turut menggerakkan roda perekonomian daerah, mulai dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pedagang kuliner, penyedia jasa transportasi, hingga sektor perhotelan dan pariwisata.
Melalui semangat yang terkandung dalam tema tahun 2026 ini, masyarakat menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya berfungsi sebagai warisan leluhur, melainkan juga sebagai perekat sosial yang mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam menghadapi tantangan bersama.
Dengan berakhirnya gelaran Pacuan Kuda Tradisional Gayo 2026, masyarakat berharap agenda tahunan ini dapat terus dilestarikan dan dikembangkan. Selain sebagai ikon kebanggaan Tanah Gayo, ajang ini diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata unggulan yang memperkenalkan kekayaan budaya Aceh di kancah nasional maupun internasional.










