Ajang Liga Santri Indonesia PORDASI Berkuda Memanah Seri 1 dipastikan mulai digelar di Ayub Camp Klaten pada Jumat (3/4/2026) hari ini.
Kompetisi yang akan digelar hingga Minggu (5/4) ini menjadi salah satu langkah strategis dalam pengembangan olahraga berkuda memanah atau horseback archery di kalangan santri di Indonesia.
Diselenggarakan oleh PORDASI Berkuda Memanah, ajang ini secara khusus menyasar peserta dari lingkungan dan sekolah berbasis pesantren di bawah Kementerian Agama (Kemenag RI).
Dengan kuota terbatas hanya untuk 80 rider, kompetisi ini diproyeksikan menjadi wadah pembinaan sekaligus pencarian bakat atlet muda di disiplin HBA.
Dalam unggahan resminya, PORDASI berkuda memanah menegaskan bahwa kompetisi ini merupakan ajang bergengsi bagi para santri pecinta olahraga berkuda memanah, jadi peserta diharapkan mampu untuk menunjukkan ketangkasan, fokus, dan sportivitas dalam berkompetisi yang penuh semangat dan prestasi.
Semangat kompetisi yang tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga pembentukan karakter.

Secara teknis, kompetisi akan mempertandingkan sejumlah kategori yang menguji kemampuan atlet secara menyeluruh, mulai dari Track Lurus (Tower 90, Skirmish, dan Mudatusias), Track Circle (Circle 40D dan Circular), hingga Archery for Horse Riding yang mengusung format dynamic & fast shooting.
Seluruh kategori tersebut dirancang untuk menguji kecepatan, akurasi, serta kontrol atlet saat menunggang kuda.
Selain menjadi ajang kompetisi, liga ini juga menegaskan peran pesantren sebagai pusat pengembangan olahraga sunnah yang kini mulai terstruktur dan profesional.
Berkuda dan memanah tidak lagi sekadar aktivitas rekreasi atau tradisi, melainkan telah berkembang menjadi cabang olahraga prestasi dengan standar kompetisi yang jelas.
Lebih dari itu, penyelenggaraan Liga Santri Indonesia juga membawa misi pembentukan karakter.
Disiplin tinggi, konsentrasi, keberanian, serta pengendalian diri menjadi aspek utama yang diasah melalui olahraga ini memiliki nilai-nilai yang sejalan dengan pendidikan di lingkungan pesantren.
Melalui kompetisi ini, diharapkan lahir generasi atlet horseback archery dari kalangan santri yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki karakter kuat sebagai representasi nilai-nilai keislaman dan sportivitas di kancah nasional.










