Olahraga berkuda sering dianggap sebagai hobi mewah di kalangan kelas atas. Hal itu benar adanya, karena hobi tersebut membutuhkan biaya yang tak murah seperti untuk membeli kuda berkualitas, perawatan (dokter hewan, pakan, kandang), perlengkapan (pelana, helm, sepatu bot) dan pelatih profesional.
Ada banyak jenis olahraga berkuda, salah satunya adalah Polo, yakni olahraga bola berkuda yang dimainkan antara dua tim di atas kuda, setiap tim terdiri dari empat orang pemain.
Masing-masing tim berusaha mencetak gol dengan memukul bola kecil ke gawang lawan menggunakan pemukul panjang yang disebut Mallet.
Sejarah Polo
Polo sendiri kerap disebut sebagai olahraga para raja. Mengutip laman HorsePilot, Polo merupakan salah satu olahraga tim tertua yang berasal dari Persia pada 2.000 tahun silam. Olahraga jenis ini awalnya merupakan latihan untuk kavaleri, yakni pasukan militer khusus yang secara historis bertempur menggunakan kuda.
Pertandingan kuno ini bukan hanya olahraga, tetapi juga tontonan. Pertandingan tersebut mencerminkan status dan kekuasaan para pemain, yang seringkali berasal dari kalangan bangsawan atau prajurit.
Permainan Polo kemudian menyebar ke seluruh Asia dan diadopsi oleh berbagai kekaisaran, terutama kekaisaran Mughal, yang memperkenalkan olahraga Polo ke India.
Permainan ini lantas dimodernisasi sebelum menyebar ke Dunia Barat.
Di India, pada abad ke-19, Polo diformalkan dengan aturan yang lebih jelas. Klub Polo pertama, yakni Calcutta Polo Club (1862) juga lahir di India dan hingga kini masih tetap eksis.
Perkembangan Polo di Indonesia
Mengutip berbagai sumber, Olahraga Polo pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada 1937 dengan didirikannya, Batavia Polo Club di Lapangan Banteng, Jakarta.
Kemudian, pada 1992, Hashim S Djojohadikusumo dan James T. Riady kembali memperkenalkan Polo di Indonesia dengan mendirikan Jakarta Polo and Equestrian Club (JPEC) di Bukit Sentul Selatan, Bogor, Jawa Barat.
Pada tahun yang sama, Indonesia resmi menjadi anggota Federation of International Polo (FIP) dengan Hashim Djojohadikusumo sebagai Ketua Asosiasi Polo Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Subiyakto Cakra Wardaya sebagai presiden Persatuan Olahraga Berkuda Indonesia (Pordasi), Asosiasi Polo Indonesia diubah menjadi Komisi Polo Indonesia di bawah naungan Pordasi, dengan Hashim Djojohadikusumo tetap sebagai ketuanya.
Sayangnya, perkembangan Polo di Indonesia mengalami stagnasi karena satu dan lain hal, kemudian berhenti total pada 2002.
Kemudian pada 2005, berdiri Nusantara Polo Club yang diasuh oleh Prabowo Subianto. Klub ini menjadi wakil Indonesia pertama kali dalam turnamen Kings Cup 2006 di Thailand dan berhasil meraih peringkat ketiga.
Di akhir turnamen tersebut, negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, dan Indonesia sepakat untuk menjadikan Polo sebagai cabang olahraga resmi yang dimainkan pertama kali dalam SEA Games 2007 di Thailand.









