Pernah mendengar Kuda Sembrani, kuda yang memiliki sayap dan bisa terbang? Adnand Rahmadi dalam bukunya berjudul “1.200 Fakta Unik Mitologi Dunia” menyebut bahwa kuda Sembrani adalah hewan mitologi yang sangat berani.
Dalam cerita rakyat Jawa, Kuda Sembrani merupakan alat transportasi bagi raja, ratu, maupun senopati.
Kuda Sembarani digunakan karena kecepatan nya, konon satu kepakan sayap kuda Sembrani bisa menempuh jarak sejauh ratusan kilometer.
Mitologi Kuda Sembrani
Dalam mitos Jawa, Kuda Sembrani bukan hanya kuda biasa, hewan ini dikisahkan bersahabat baik dengan para raja, pangeran, atau pendekar yang sedang berpetualang.
Kuda Sembrani kerap dikisahkan sebagai tunggangan tokoh-tokoh yang memiliki kekuatan supranatural, mereka dapat menempuh perjalanan melintasi langit, menembus awan, atau mengarungi lautan.
Kuda ini digambarkan dengan fisik yang kuat dan gagah, terkadang bersayap, yang semakin menegaskan kekuatannya dalam bertempur dan berkelana.
Kuda Sembrani disebut sering membantu pemiliknya untuk mengalahkan musuh yang kuat serta menghadapi rintangan sulit.
Kuda Sembrani juga dikenal dalam kesenian tradisional seperti wayang orang dan wayang kulit.
Terutama dalam cerita yang terpengaruh oleh epos besar seperti Mahabharata dan Ramayana.
Sosoknya biasanya berwarna putih bersih dengan sayap lebar yang menyerupai burung raksasa.
Jejak Kuda Sembrani
Mengutip laman Visiting Jogja, Kuda Sembrani yang turun dari langit sempat mendarat di bebatuan keras di dekat telaga.
Kuatnya hentakan kuda Sembrani ini akhirnya menciptakan bekas tapak kaki kuda. Inilah yang kemudian menjadi asal muasal penamaan situs Tapak Jaran Sembrani.
Dahulu Abdi Dalem Keraton Yogyakarta sering mengambil bekas tapak Jaran Sembrani tersebut.
Hanya dengan doa tertentu, batu bekas tapak Jaran Sembrani bisa terlepas sendiri dari bagian batu yang besar.
Kuda Sembrani juga dikatakan sering turun ke Tlogo Guyangan untuk berendam dan mandi.
Keberadaan sosok makhluk mitologi kuda Sembrani ini erat kaitannya dengan awal mula dihuninya Kampung Pitu.
Tlogo Mardido atau yang juga dikenal dengan nama Tlogo Guyangan adalah cekungan yang terdapat mata air.
Kini sumber mata air tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar serta untuk kebutuhan irigasi.
Air dari Tlogo Guyangan ini senantiasa memenuhi kebutuhan warga meski kondisi kemarau panjang.
Para wisatawan juga bisa menikmati kesegaran air di mata air Tlogo Guyangan dengan tetap mematuhi tata krama yang berlaku dan berperilaku sopan.
Meski saat ini, Tlogo Guyangan telah tertutup lumpur serta tanah dan hanya menyisakan mata airnya saja.
Lumpur atau tanah yang menutupi Tlogo Guyangan ini masih bisa dimanfaatkan warga sebagai lahan persawahan.
Hingga kini, Kuda Sembrani tetap hidup dalam imajinasi masyarakat melalui cerita rakyat, buku anak, hingga ilustrasi modern.
Ia menjadi simbol bahwa warisan mitologi Nusantara memiliki kekayaan yang tak kalah menarik dibanding legenda dari belahan dunia lain.
Di tengah arus modernisasi, kisah tentang kuda bersayap ini terus mengingatkan generasi muda akan pentingnya menjaga dan menghargai budaya sendiri.









