Di tengah perkembangan olahraga berkuda modern, terdapat satu cabang yang menggabungkan tradisi, seni, serta kecepatan, yakni Horseback Archery atau memanah dari atas kuda.
Olahraga ini menuntut atlet untuk memacu kuda sekaligus melemparkan anak panah ke sasaran dalam satu waktu.
Berbeda dengan panahan pada umumnya yang dilakukan dalam keadaan berdiri diam.
Panahan di atas kuda membutuhkan pemanah untuk tetap menjaga keseimbangan tubuhnya meskipun kuda sedang berlari.
Olahraga ini tentunya cukup menantang dan memerlukan fokus tingkat tinggi.
Menurut situs resmi Federasi Archery dengan Kuda Dunia (WHAF), Horseback Archery berasal dari tradisi militer bangsa-bangsa kuno seperti Mongol, Turki, dan Korea.
Teknik ini awalnya digunakan di dalam perang, lalu berkembang menjadi olahraga yang dilombakan dengan aturan yang sudah ditetapkan.
Dalam kompetisi modern, lintasan umumnya berbentuk garis lurus dengan panjang sekitar 90 hingga 150 meter.
Di sepanjang jalur tersebut, terdapat beberapa target yang harus ditembak ketika kuda berlari.
Penilaian didapatkan berdasarkan presisi tembakan, kecepatan menyelesaikan jalur, serta teknik berkendara yang konsisten. Hal itulah yang akhirnya membuat Horseback terlihat menarik.
Menurut Federasi Panahan Dunia atau World Archery Federation, panahan tradisional termasuk Horseback Archery yang sedang berkembang dengan pesat di berbagai negara.
Bahkan, kekinian Horseback Archery mendapatkan perhatian lebih dalam komunitas olahraga internasional, seperti Korea Selatan, Mongolia, Hungaria, hingga Turki.
Kompetisi internasional pun secara rutin diadakan dengan standar keselamatan yang tinggi, baik bagi atlet maupun kuda.
Meski belum sepopuler cabang berkuda lainnya di Indonesia, Horseback Archery memiliki daya tarik tersendiri. Perpaduan antara kecepatan dan konsentrasi, menjadikannya bukan hanya sekadar olahraga, tetapi juga pertunjukan keterampilan tingkat tinggi.









