“Pendidikan membentuk pola pikir dan mental, sedangkan olahraga melatih fisik, disiplin, dan ketangguhan. Keduanya harus berjalan seimbang,”
Alumni Institut Teknologi Sumatera (Itera), Azral Mardin, mencatatkan prestasi di tingkat internasional. Azral meraih medali perak pada ajang International Horseback Archery Alliance (IHAA) World Championship 2025.
Kejuaraan dunia panahan berkuda tersebut digelar di Tennessee Valley Archery, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu, dan diikuti atlet dari berbagai negara. Lulusan Program Studi Teknik Fisika angkatan 2019 ini menjadi salah satu wakil Indonesia tampil pada kejuaraan dunia tersebut. Hal ini menambah daftar prestasi internasional diraih alumni Itera di bidang olahraga, khususnya panahan berkuda.
Atas keberhasilannya meraih medali perak di IHAA World Championship 2025, Azral dianugerahi Indonesia Rising Stars Award. Penghargaan tersebut diberikan kepada atlet dan insan industri yang dinilai berkontribusi besar dalam pengembangan dunia pacuan kuda nasional.
Diketahui, saat ini Azral sedang menempuh pendidikan Magister Teknik Lingkungan di Universitas Andalas. Ia menjalani studi tersebut melalui Program Beasiswa LPDP Keolahragaan yang berada di bawah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), diperuntukkan bagi atlet berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.
Alumni Itera asal Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat ini menceritakan ketertarikannya terhadap olahraga berkuda mulai tumbuh saat dirinya duduk di semester empat perkuliahan pada 2021 lalu. Ia menyebut situasi pandemik kala itu justru mendorongnya untuk tetap produktif dengan menekuni cabang olahraga baru.
“Ketertarikan terhadap olahraga berkuda mulai muncul saat saya kuliah semester empat pada 2021. Situasi pandemik saat itu justru memacu saya untuk lebih produktif,” ujar Azral dilansir dari laman Itera, Kamis (29/1/2026).
Meski awalnya diterima sebagai mahasiswa Itera melalui jalur prestasi olahraga basket, pembatasan aktivitas selama pandemik membuatnya beralih fokus ke panahan berkuda. Di tengah latihan intensif, Azral tetap menjalankan kewajiban akademik secara beriringan.
“Manajemen waktu menjadi kunci utama. Latihan berkuda dilakukan pagi hari, kemudian mengikuti perkuliahan hingga sore, dan malam digunakan untuk belajar,” tuturnya.
Kesempatan Azral untuk tampil di kompetisi internasional telah dimulai sejak ia masih berstatus mahasiswa Itera. Ia pernah mengikuti kejuaraan panahan berkuda di Malaysia, meski jadwal pertandingan bertepatan dengan ujian akademik.
Menurut Azral, komunikasi baik dengan dosen menjadi faktor penting sehingga ia dapat menjalani kompetisi dan kewajiban akademik secara seimbang. Selain itu, Itera juga memberikan dukungan pendanaan untuk debut internasionalnya tersebut.
“Saya sangat berterima kasih kepada Itera yang telah memberikan ruang dan kesempatan bagi saya untuk berkembang melalui olahraga yang saya tekuni,” katanya.
Meski sempat menghadapi tantangan finansial, Azral menyatakan tidak pernah berhenti mengejar mimpinya di bidang pendidikan dan olahraga. Kini, ia melanjutkan perjuangannya sebagai mahasiswa magister melalui Beasiswa LPDP Keolahragaan, sembari terus berkiprah sebagai atlet panahan berkuda di level internasional.
“Pendidikan membentuk pola pikir dan mental, sedangkan olahraga melatih fisik, disiplin, dan ketangguhan. Keduanya harus berjalan seimbang,” tutupnya.










