Penentuan pemenang pacuan kuda bisa menjadi momen penuh debat, bahkan ricuh. Hari ini, masyarakat atau penonton tinggal menunggu hasil kamera foto akhir.
Dikutip dari berbagai sumber, pada era awal pacuan modern, keputusan ada di tangan hakim yang duduk di judge’s box tepat di garis finis.
Dengan mata telanjang, mereka menilai kuda mana yang lebih dulu menyentuh garis akhir. Masalah muncul ketika tiga atau empat kuda melintas hampir bersamaan.
Tanpa bukti visual, hasil keputusan kerap diperdebatkan. Emosi penonton dan pemilik kuda tak jarang memanas karena semuanya bergantung pada persepsi manusia.
Upaya meningkatkan akurasi kemudian dilakukan dengan merentangkan benang di garis finis. Kuda yang lebih dulu menyentuh benang dianggap sebagai pemenang. Metode ini terdengar sederhana, tetapi tetap menyisakan celah kontroversi.
Eksperimen awal menggabungkan benang dengan kamera juga pernah dicoba pada akhir abad ke-19. Namun hasil foto masih buram dan belum cukup presisi untuk benar-benar mengakhiri perdebatan.
Tonggak penting terjadi pada 1890. Fotografer John Charles Hemment berhasil mengabadikan duel legendaris antara Salvator dan Tenny.
Jepretan itu menjadi foto finish tertua yang masih bertahan hingga kini.
Sebelumnya, pada 1881, Ernest Marks sempat mencoba teknik serupa, tetapi dokumentasinya tidak bertahan.
Karena itu, karya Hemment diakui sebagai bukti visual awal penggunaan kamera untuk menentukan pemenang.
Lompatan besar terjadi pada 1937 di lintasan Del Mar yang dimiliki oleh Bing Crosby.
Bekerja sama dengan teknisi dari studio film, ia membantu mengembangkan kamera “strip” yang mampu merekam pergerakan kuda secara kelanjutan tepat di garis finis.
Inovasi ini membuat hasil jauh lebih presisi dibanding kamera konvensional. Sejak saat itu, sistem foto finish modern mulai terbentuk dan perlahan diadopsi lintasan pacuan di seluruh dunia.
Sulit membayangkan balapan besar hari ini masih ditentukan lewat mata telanjang atau seutas benang. Dengan kecepatan kuda yang bisa mencapai puluhan kilometer per jam, selisih kemenangan sering kali hanya hitungan milimeter.
Teknologi foto finish bukan sekadar alat bantu, ia menjadi penjaga keadilan di lintasan.









