”Mimpi kedepannya, saya ingin menjadi seorang Good Rider. Dalam artian, bukan cuma jago menunggangi, tapi bisa mengerti dan melatih kuda dengan metode yang tepat,”
Dunia olahraga ketangkasan berkuda equestrian Indonesia terus melahirkan talenta-talenta berbakat yang tidak hanya mengejar prestasi di podium, tetapi juga memiliki dedikasi mendalam terhadap kesejahteraan dan pelatihan hewan itu sendiri.
Salah satu sosok muda di sirkuit berkuda adalah Anggit Haris Munandar, atau yang akrab disapa Aang.
Di usianya yang menginjak 26 tahun, pemuda yang kini bernaung di bawah bendera W Equestrian ini telah mengukir sejumlah prestasi yang patut diperhitungkan.
Pada gelaran bergengsi Jakarta World Cup (JWC) 2026, Aang sukses mengamankan posisi kedua di kelas 90 cm. Tidak berhenti di situ, ketangguhannya kembali teruji dalam ajang Arthayasa Open, di mana ia berhasil membawa pulang peringkat ketiga sebanyak dua kali di kelas Advanced. Sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa ia mampu bersaing di level tinggi kompetisi nasional.
Bagi banyak joki, puncak karier mungkin diukur dari seberapa banyak medali emas yang tergantung di dinding rumah.
Namun, bagi Aang, visi masa depannya mengalami pergeseran emosional yang mendalam sejak tahun 2022.
”Mimpi kedepannya, saya ingin menjadi seorang Good Rider. Dalam artian, bukan cuma jago menunggangi, tapi bisa mengerti dan melatih kuda dengan metode yang tepat,” ungkap Aang kepada Berkudanews,Sabtu (20/6/2026).
Definisi Good Rider bagi Aang adalah tentang empati, kesabaran, dan pemahaman mendalam terhadap psikologi serta anatomi kuda. Ia percaya bahwa performa terbaik seekor kuda di lapangan adalah hasil dari proses latihan yang benar, tanpa paksaan, dan dibangun di atas rasa saling percaya antara manusia dan hewan.
Melangkah ke depan, Aang telah memetakan arah karier yang lebih spesifik dan menantang. Ia bertekad untuk memfokuskan dirinya sebagai pelatih Green Horse sebutan untuk kuda-kuda muda yang masih hijau, belum terlatih, atau baru memulai karier mereka di dunia equestrian.
Melatih green horse dikenal sebagai salah satu tugas paling rumit dan berisiko tinggi di dunia berkuda. Dibutuhkan ketenangan luar biasa dan teknik yang presisi agar potensi sang kuda bisa keluar secara maksimal tanpa merusak mentalnya. Aang tertantang untuk menjadi mentor bagi kuda-kuda muda ini hingga mereka siap naik ke kelas kompetisi.
“Kedepannya, mau jadi Pelatih Green Horse,” kata dia.
Selain mendedikasikan hidupnya sebagai pelatih, Aang juga menyimpan satu impian personal yang terus membakar semangatnya setiap hari di kandang.
”Kalo ada rejekinya sih, saya juga pengen banget punya kuda sendiri,” imbuhnya.










