”Awal mula mencoba kuda karena keinginan dari diri sendiri, dan kebetulan ditambah ada fasilitas berkuda militer di area kompleks rumah,”
Di dunia olahraga ketangkasan berkuda equestrian Indonesia, nama Muhammad Fahmi Satria Widjaya atau yang lebih akrab disapa Fahmi Satria bukan lagi nama yang asing. Pemuda asal Bandung yang kini bernaung di bawah bendera Arthayasa Stables ini terus membuktikan diri sebagai salah satu rider berbakat tanah air dengan deretan prestasi, baik di tingkat nasional maupun di beberapa kelas internasional.
Memasuki usia 28 tahun pada Agustus mendatang, Fahmi membawa perspektif yang matang, dedikasi tinggi, dan visi besar tidak hanya untuk karier pribadinya, tetapi juga untuk masa depan industri berkuda di Indonesia.
Perjalanan Fahmi di dunia equestrian dimulai pada tahun 2013. Berbeda dengan beberapa atlet yang masuk ke dunia ini karena faktor keluarga, ketertarikan Fahmi murni lahir dari rasa penasaran dan keinginan kuat di dalam dirinya sendiri.
Bagi Fahmi, masa kecilnya di kelilingi oleh lingkungan yang mendukung. Kehadiran fasilitas berkuda militer yang berada di area kompleks rumahnya menjadi gerbang pembuka. Dari sekadar mencoba, interaksi dengan hewan tersebut berubah menjadi gairah hidup yang ia tekuni secara profesional hingga saat ini.
”Awal mula mencoba kuda karena keinginan dari diri sendiri, dan kebetulan ditambah ada fasilitas berkuda militer di area kompleks rumah,” ungkapnya kepada Berkudanews, Jumat (22/5/2026).
Lebih dari satu dekade berkecimpung di lintasan, mimpi Fahmi tetap sama dan tidak pernah padam yakni membawa nama Indonesia berkibar di kancah internasional. Sebuah mimpi besar yang senada dengan para penunggang kuda lainnya.
Namun, Fahmi tidak egois dalam memandang masa depannya di dunia berkuda. Ketika ditanya mengenai arah kariernya ke depan, ia melihat ruang yang besar untuk berkontribusi di luar pelana, yaitu dengan menjadi seorang. Langkah ini menunjukkan kedewasaan Fahmi sebagai seorang atlet.
Ia memahami bahwa untuk membangun ekosistem berkuda yang berkelanjutan, Indonesia tidak hanya butuh atlet yang andal, tetapi juga mentor-mentor berkualitas yang mampu menularkan ilmu, teknik, dan mental juara kepada generasi penerus.
Tahun 2026 ini, Fahmi mengaku tidak mematok target spesifik atau muluk-muluk yang membebani langkahnya. Fokus utamanya saat ini adalah konsistensi dan kualitas di setiap ajang pertandingan.
”Tahun ini di bulan Agustus saya berusia 28 tahun. Tidak ada target khusus di tahun ini, hanya lebih ingin memaksimalkan setiap pertandingan yang ada,” kata dia.
Sebagai atlet yang telah mencicipi ketatnya persaingan di kelas internasional, Fahmi memiliki pandangan kritis dan membangun terkait perkembangan equestrian di tanah air.
Menurutnya, potensi Indonesia sangat besar baik dari aspek kemampuan rider maupun kualitas kuda-kuda yang dimiliki saat ini.
Namun, tantangan terbesar ada pada jam terbang dan atmosfer kompetisi. Fahmi menyuarakan pentingnya memperbanyak kompetisi bertaraf internasional di dalam negeri, khususnya di bawah naungan FEI (Federation Equestre Internationale)
“Dari segi skill riding para atlet dan banyaknya kuda yang mumpuni, saya rasa kita bisa bikin berkuda Indonesia makin up level. Harapan saya, lebih banyak dibuat kompetisi bertaraf internasional seperti CSI dan CDI, supaya level berkuda di Indonesia bisa lebih mendekati dengan level yang ada di luar sana,” imbuh dia.








