“Ini murni inisiatif peternak kuda, tidak membawa bendera organisasi atau kepentingan tertentu.”
Harapan masyarakat untuk menyaksikan derap langkah kuda di dataran tinggi Gayo kembali membumbung tinggi.
Meski agenda resmi pemerintah daerah sebelumnya telah dinyatakan batal, sebuah inisiatif mandiri memastikan bahwa event pacuan kuda tradisional di Aceh Tengah tetap akan digelar.
Informasi ini mencuat melalui unggahan akun Instagram @pacukude, yang mengonfirmasi bahwa para pemilik kuda, peternak, dan pelaku UMKM telah bersepakat untuk menjalankan kegiatan ini secara swadaya.
Aldi Yoga, salah satu sosok di balik gerakan ini, menegaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan tersebut sama sekali tidak memiliki tendensi politik.
Dalam keterangannya, ia menjamin bahwa langkah ini murni lahir dari kecintaan peternak terhadap tradisi tanpa ada upaya untuk menyudutkan pihak mana pun, termasuk Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.
“Ini murni inisiatif peternak kuda, tidak membawa bendera organisasi atau kepentingan tertentu,” tegas Aldi.
Lebih lanjut, panitia penyelenggara justru membuka ruang komunikasi yang seluas-luasnya bagi berbagai pihak yang ingin berpartisipasi.
Semangat kolaborasi diusung sebagai kunci utama untuk menyukseskan perhelatan budaya ini.

Dengan keterbukaan tersebut, diharapkan seluruh elemen masyarakat dapat saling bahu-membahu demi kelancaran acara yang telah menjadi identitas kultural masyarakat Gayo tersebut.
Selain sebagai upaya pelestarian tradisi, event pacuan kuda kali ini dirancang memiliki dampak sosial yang nyata.
Panitia berencana menyisipkan misi kemanusiaan dengan membuka peluang penggalangan donasi selama kegiatan berlangsung.
Dana yang terkumpul nantinya akan disalurkan sepenuhnya untuk membantu para korban bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa wilayah di Aceh Tengah belakangan ini.
Satu hal yang menjadi sorotan utama adalah kemandirian finansial dari proyek ini, di mana Aldi memastikan tidak ada penggunaan anggaran daerah atau APBK sedikit pun.
Seluruh biaya operasional berasal dari inisiatif pribadi dan partisipasi kolektif para peternak serta pelaku usaha lokal.
Langkah ini diambil untuk membuktikan bahwa semangat gotong-royong masyarakat mampu menghidupkan kembali denyut ekonomi dan budaya tanpa membebani kas daerah.
Berdasarkan jadwal yang telah disusun, perhelatan akbar ini direncanakan berlangsung pada Juni 2026 mendatang, tepatnya setelah Hari Raya Iduladha 1447 Hijriyah.
Hingga saat ini, proses persiapan teknis di lapangan dilaporkan telah mencapai sekitar 60 persen.
Panitia kini sedang fokus menuntaskan sisa persiapan sembari menunggu proses perizinan dari pihak terkait rampung sepenuhnya.
Sebelumnya, pembatalan HUT ke-449 Kota Takengon sempat memicu pro dan kontra, terutama terkait anggaran Rp480 juta yang semula dialokasikan untuk pacuan kuda di Blang Bebangka, Pegasing.
Dengan munculnya inisiatif swadaya ini, kegelisahan masyarakat akan hilangnya tradisi tahunan tersebut tampak mulai mereda, berganti dengan antusiasme menyambut gelaran mandiri yang sarat akan nilai solidaritas.









