“Semakin banyak yang terlibat, tentu akan semakin baik untuk mensukseskan kegiatan ini.”
Di tengah kabar pembatalan Atraksi Pacuan Kuda pada HUT Kota Takengon ke-449, sebuah inisiatif luar biasa muncul dari masyarakat.
Mengutip akun Instagram @pacukude, para peternak kuda dan pelaku usaha mikro, kecil dan Menengah (UMKM) di Aceh Tengah, sedang mempersiapkan sebuah perhelatan akbar sebagai wujud kemandirian dan kecintaan terhadap dunia peternakan serta ekonomi kreatif.
Gerakan ini lahir murni dari aspirasi komunitas yang ingin terus menghidupkan geliat ekonomi di tengah situasi sulit.
Panitia penyelenggara menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan gerakan swadaya, yang fokus utamanya menyediakan wadah bagi para pelaku usaha dan pecinta kuda untuk saling bersinergi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada anggaran pemerintah.
Penggagas acara, Aldi Yoga, menegaskan bahwa inisiatif mandiri ini sama sekali tidak bertujuan untuk menyudutkan Pemerintah Daerah atau pihak mana pun terkait kebijakan yang telah diambil sebelumnya.
Sebaliknya, ia menyatakan bahwa event ini adalah bentuk kontribusi aktif masyarakat untuk membantu daerah tetap produktif meski tengah dalam masa pemulihan.
Meskipun digerakkan secara swadaya oleh komunitas peternak dan pelaku UMKM, pihak panitia tetap membuka pintu kolaborasi bagi seluruh stakeholder yang ingin bergabung.

Semangat ini diusung agar dampak positif dari kegiatan tersebut dapat dirasakan oleh cakupan masyarakat yang lebih luas, menciptakan efek domino yang baik bagi ekonomi lokal.
“Kami sangat siap dan terbuka untuk berkolaborasi dengan pihak manapun. Semakin banyak yang terlibat, tentu akan semakin baik untuk mensukseskan kegiatan ini,” ujar Aldi Yoga.
Pernyataan ini menunjukkan kedewasaan komunitas dalam menyikapi situasi daerah dengan tetap mengedepankan semangat kerja sama.
Sisi yang paling menyentuh dari rencana ini adalah misi kemanusiaan yang menjadi landasan utama.
Panitia telah berkomitmen untuk menyisihkan sebagian dari hasil kegiatan tersebut sebagai donasi bagi warga Aceh Tengah yang terdampak musibah bencana alam.
Hal ini menunjukkan bahwa komunitas tetap memiliki empati yang tinggi terhadap sesama.
Melalui aksi nyata ini, diharapkan event tersebut tidak hanya sekadar menjadi ajang hiburan atau transaksi ekonomi semata.
Lebih dari itu, kegiatan ini diproyeksikan menjadi ladang amal dan simbol solidaritas yang kuat antar sesama anak bangsa di Aceh Tengah.









