Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi) sukses mengirimkan drh. Ade Octaviani sebagai delegasi nasional.
Kehadiran dokter hewan kuda itu secara khusus mewakili Indonesia dalam ajang “Workshop International Horse Movement & Equine Health” yang telah rampung digelar pada 16 hingga 17 April 2026 lalu.
Menyitat ulasan dari unggahan akun Instagram @pordasi.id, agenda strategis yang telah tuntas digelar tersebut diinisiasi oleh World Organisation for Animal Health (WOAH) bersama International Horse Sport Confederation (IHSC).
Rangkaian kegiatan penting ini mengambil tempat di Hong Kong Jockey Club Happy Valley* Hong Kong.
Seminar bertaraf internasional tersebut tercatat dihadiri secara langsung oleh 78 peserta otoritatif yang mewakili 17 negara berbeda.
Sepanjang acara, diskusi utama dalam forum tersebut difokuskan pada urgensi penerapan kawasan bebas penyakit kuda atau Equine Disease Free Zone (EDFZ) serta kerangka kerja High Health Status Horse Protocol (HHP Framework).
Dalam pemaparannya, penerapan kedua instrumen regulasi tersebut dinilai sangat krusial untuk memfasilitasi mobilitas kuda kompetisi yang bersifat sementara secara aman.
Standar protokol kesehatan tingkat tinggi ini disepakati sebagai landasan persiapan esensial dalam menyongsong berbagai ajang olahraga multievent berskala besar, seperti Asian Games mendatang.
Guna membedah regulasi tersebut secara komprehensif, pihak penyelenggara telah menghadirkan deretan pakar ekuestrian global sebagai pembicara utama.
Tokoh-tokoh tersebut di antaranya adalah Dr Goran Akerstrom selaku FEI Veterinary Director, Jack Huang selaku FEI Vice President, serta sejumlah perwakilan otoritas veteriner dari Thailand, Jepang, Tiongkok, dan Hong Kong.
Melalui rangkaian diskusi teknis intensif selama dua hari tersebut, para delegasi sukses merumuskan kebutuhan mendesak di lapangan.
Rekomendasi yang dihasilkan mencakup perwujudan paspor digital, sistem pelayanan satu pintu, hingga sinkronisasi sertifikat elektronik (e-certificate) antarnegara anggota FEI Grup VIII.
Sebagai kesimpulan dari penutupan acara, forum internasional ini sangat menyoroti pentingnya pembentukan kerja sama Public Private Partnership yang efektif.
Seluruh pihak menyepakati bahwa sinergi kuat antara pejabat dokter hewan pemerintah, otoritas karantina, dan entitas swasta seperti IFHA dan FEI mutlak diperlukan agar kerangka kerja pergerakan kuda yang aman dapat segera teraktualisasi.









