Dalam dunia pacuan kuda nasional, Pertiwi Cup dikenal sebagai salah satu lomba klasik paling bergengsi yang secara khusus diperuntukkan bagi kuda betina usia tiga tahun (fillies).
Kejuaraan ini menjadi panggung penting dalam mengukur kualitas generasi muda kuda pacu Indonesia, sekaligus bagian dari sistem pembinaan menuju level elite.
Berdasarkan regulasi dan catatan organisasi pacuan nasional, Pertiwi Cup merupakan bagian dari rangkaian Indonesia’s Horse Racing Triple Crown Serie 1, yang rutin digelar setiap tahun.
Dalam ajang ini, kelas Pertiwi Cup dipertandingkan pada jarak 1.600 meter dan hanya diikuti oleh kuda betina usia tiga tahun, menjadikannya kategori yang sangat spesifik dan prestisius.
Sejarah panjang Pertiwi Cup tidak lepas dari perkembangan industri pacuan kuda Indonesia itu sendiri.
Dalam buku Sejarah Pembentukan Kuda Pacu Indonesia: Rumpun Baru Kuda Indonesia Karya Anak Bangsa (Gramedia, 2019), dijelaskan bahwa ajang ini pertama kali diselenggarakan pada era 1980-an di Pulomas, Jakarta.
Awalnya, perlombaan belum memiliki batasan usia khusus dan masih menggunakan jarak yang lebih pendek.

Seiring berkembangnya sistem klasifikasi pacuan nasional, terjadi perubahan penting pada awal 1990-an.
Regulasi kemudian menetapkan bahwa Pertiwi Cup hanya boleh diikuti oleh kuda betina usia tiga tahun.
Perubahan ini menjadikan Pertiwi Cup sebagai versi Indonesia dari lomba “Oaks”, yaitu kategori khusus untuk fillies dalam tradisi balap kuda dunia.
Selain aspek kompetisi, Pertiwi Cup juga memiliki nilai simbolik yang kuat. Penyelenggaraannya sering dikaitkan dengan momentum bulan April, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.
Hal ini menjadikan ajang tersebut sebagai simbol penghormatan terhadap perempuan, selaras dengan konsep lomba yang dikhususkan bagi kuda betina.
Tradisi Dunia: Lomba Khusus Kuda Betina (Fillies)

Dalam video yang diunggah Indonesia’s Horse Racing dijelaskan, lomba khusus kuda betina usia tiga tahun telah menjadi bagian penting dalam sistem pacuan kuda Thoroughbred. Kategori ini dikenal luas dengan istilah “Oaks”.
Secara historis, sistem ini dikembangkan untuk membedakan performa antara kuda jantan dan betina, sekaligus menjadi indikator penting dalam dunia breeding (pembiakan).
Kuda betina yang berprestasi dalam lomba seperti ini memiliki nilai tinggi sebagai indukan di masa depan, karena dianggap memiliki kualitas genetik unggul.
Konsep tersebut kemudian diadopsi di berbagai negara, misalnya Epsom Oaks di Inggris, Kentucky Oaks di Amerika, dan Japanese Oaks di Jepang.
Peran Strategis Pertiwi Cup di Indonesia
Di Indonesia, Pertiwi Cup tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga bagian dari ekosistem pembinaan kuda pacu nasional.
Bersama kelas Derby dan Triple Crown, ajang ini membantu menciptakan struktur kompetisi yang seimbang antara kuda jantan dan betina.
Keberadaan Pertiwi Cup juga memberikan peluang bagi pemilik dan peternak untuk menguji kualitas kuda betina terbaik mereka di usia emas, yaitu tiga tahun.
Hal ini sangat penting dalam menentukan masa depan kuda, baik sebagai atlet maupun sebagai indukan dalam industri pembiakan.










