Asia Friendly Endurance Ride (AFER) Seri 2 yang digelar pada 25-26 Oktober akan menjadi sorotan utama kalender Equestrian 2026. Ajang ini menghadirkan standar jarak dan regulasi setara kompetisi di Asia.
Endurance bukan lomba kecepatan semata. Disiplin ini menguji daya tahan kuda dalam jarak jauh dengan sistem pemeriksaan ketat di setiap fase.
Detak jantung, tingkat hidrasi, hingga kondisi kuku menjadi indikator kelayakan lomba.
Selain AFER, Kejuaraan Nasional Equestrian juga akan dijadwalkan pada November 2026 sebagai ajang evaluasi dan seleksi atlet nasional.
Kombinasi dua agenda ini menunjukkan arah pembinaan berbasis standar internasional.
Federasi Nasional Pordasi Equestrian menyusun agenda tersebut selaras dengan arahan Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman, mengenai pentingnya konsistensi agenda tahunan.
“Cabang olahraga atau Federasi Nasional Pordasi hasil transformasi organisasi harus melakukan kewajiban sebagai anggota KONI Pusat. Setiap tahun harus ada Rapat Kerja Nasional dan Kejuaraan Nasional,” bebernya ditulis pada Rabu (4/3).
Dalam Endurance, strategi pengaturan tempo menjadi krusial. Kecepatan tanpa kontrol justru berisiko gagal di fase pemeriksaan medis.
Menurut beberapa sumber, yang terpenting dalam Endurance adalah menjaga kondisi kuda agar ia dapat lulus pemeriksaan tim dokter hewan, di mana detak jantung kuda tidak boleh melampaui 64 detak atau menit.
Kuda juga tidak boleh pincang, dehidrasi, anemia, kulit lecet atau sensitif serta kram dan kolik.
Selain itu, kuda yang menunjukkan tanda kelelahan dan kondisi kesehatannya tidak prima maka akan dieliminasi oleh tim veteriner (dokter hewan) dan keputusan mereka tidak dapat diganggu gugat.
Karena itu, 2026 diposisikan sebagai tahun peningkatan kualitas dan adaptasi terhadap standar Asia.
Targetnya bukan hanya menyelenggarakan event, tetapi membangun kesiapan atlet menghadapi persaingan regional.
AFER dan Kejurnas akhirnya menjadi pijakan penting menuju PON XXII/2028 NTT–NTB dengan pendekatan yang lebih profesional dan terukur.









