“Saya minta promosi digencarkan agar masyarakat benar-benar terhibur…”
Pacuan Kuda Ambal kembali dipersiapkan secara matang untuk menyambut ajang Bupati Kebumen Cup 2026 yang akan digelar di Lapangan Krido Turonggo pada 24–26 Maret 2026 mendatang.
Bupati Kebumen, Lilis Nuryani menyerukan agar perhelatan pacuan kuda ini terus digencarkan demi menggaet para wisatawan.
“Saya minta promosi digencarkan agar masyarakat benar-benar terhibur. Dan yang tidak kalah penting, faktor safety harus menjadi perhatian utama, baik untuk penonton maupun keamanan kudanya,” ujar Lilis ditulis pada Rabu (25/2).
Pacuan Kuda Ambal selama ini memang dikenal sebagai salah satu agenda olahraga yang selalu dinanti-nanti oleh masyarakat. Hal itu terbukti pada arus lalu lintas di Desa Kaibonpetangkuran, Kecamatan Ambal yang mengalami peningkatan signifikan, pada event tahun lalu.
Lautan manusia tumpah ruah di lokasi untuk menyaksikan kuda-kuda berpacu cepat di lintasan, memicu sorak sorai dan adrenalin penonton.
Gelaran yang berlangsung selama tiga hari itu tak hanya menghibur, tetapi juga menghidupkan ekonomi warga sekitar.
Pacuan Kuda Ambal telah menjadi tradisi tahunan yang dinanti-nanti warga, tidak hanya dari Kebumen tapi juga dari luar daerah.
Selain sebagai tontonan, ajang ini juga menggerakkan roda ekonomi lokal, dari pedagang kaki lima, UMKM, hingga jasa parkir turut kebanjiran rejeki.
Hal tersebut selaras dengan pernyataan Ketua Panitia, Sodikul Anwar, ia menjelaskan event ini bukan sekadar ajang adu cepat, melainkan ikon sport tourism yang menarik minat peserta nasional.
“Peserta (kuda) dari luar daerah bahkan sudah mulai berdatangan di Ambal. Untuk kelas yang dipertandingkan masih sama seperti tahun sebelumnya, mulai dari Kelas F (1.000 meter) hingga kelas tertinggi, yaitu Kelas A Terbuka dengan jarak tempuh 2.000 meter,” ungkap Sodikul.
Di sisi lain, panitia juga mengungkapkan kebanggaannya bahwa Lapangan Ambal merupakan salah satu lintasan pacuan kuda lokal terbaik di Jawa Tengah.
Mengingat, sejarahnya yang panjang sejak era 1950-an, panitia berharap pemerintah daerah dapat mempertimbangkan agar trek tersebut dipatenkan menjadi lintasan permanen.
“Ini adalah tradisi yang sudah ada sejak zaman ayah saya kecil. Harapan kami, jika trek ini dipermanenkan, kelestarian tradisi akan terjaga, ekonomi warga lokal terangkat, dan sektor pariwisata Kebumen semakin kuat,” imbuhnya.









