Kuda tidak hanya menjadi alat transportasi atau hewan ternak, tetapi juga bagian penting dari budaya dan tradisi masyarakat di Indonesia. Salah satu tradisi berkuda yang paling dikenal adalah Pasola di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.
Ajang Festival Kebudayaan
Mengutip dari berbagai sumber, Pasola merupakan festival tradisional yang digelar setiap tahun oleh masyarakat Sumba untuk menyambut datangnya musim tanam padi.
Pada acara ini, para penunggang kuda melemparkan tombak dari atas pelana saat berkuda secara berkelompok di padang luas, sebagai bentuk ritual dan simbol rasa syukur kepada leluhur.
Hubungan Kuda dengan Budaya Sumba
Selain sebagai ajang budaya, Pasola juga menunjukkan hubungan erat masyarakat Sumba dengan kuda, yang dianggap lebih dari sekedar hewan, kuda menjadi simbol status, kekuatan, dan identitas komunitas.
Tradisi berkuda di Sumba pun tidak hanya berlangsung saat festival saja, tetapi juga melekat dalam acara pernikahan, upacara adat, dan kehidupan sosial masyarakat setempat.
Transformasi Tradisi Pasola di Sumba
Namun seiring waktu, tradisi ini mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan zaman dan modernisasi.
Mengutip dari laman resmi Times Indonesia, dalam beberapa dekade terakhir, jumlah kuda liar di Sumba yang dahulu ditangkap dengan cara njara (menangkap kuda di alam bebas) semakin berkurang dikarenakan lebih banyak kuda dipelihara di peternakan atau kandang demi kebutuhan pariwisata dan komunitas lokal.
Transformasi tradisi ini juga terefleksikan dalam bentuk festival modern seperti 1001 Sandalwood Horses Festival yang lebih menonjolkan estetika dan pengalaman wisata, di mana kuda dihias dan penunggang memakai pakaian adat untuk menarik minat pengunjung domestik maupun wisatawan asing.
Perubahan lain terlihat pada generasi muda Sumba, di mana bukan hanya keterampilan berkuda tradisional yang dipertahankan, tetapi juga metode pelestarian kuda sandalwood yang dikaitkan dengan potensi ekonomi dari sektor pariwisata.
Kegiatan berkuda kini sering dikemas dalam paket wisata edukatif yang memperkenalkan budaya lokal kepada wisatawan.
Tantangan di Era Modern
Meski demikian, tantangan tetap ada. Penurunan populasi kuda asli dan tekanan budaya modern membuat tradisi seperti Pasola perlu adaptasi agar tetap relevan tanpa kehilangan makna historisnya.
Peranan Pemerintah
Pemerintah daerah dan komunitas budaya pun mulai melakukan berbagai upaya pelestarian, seperti pendokumentasian kuda sandalwood sebagai warisan budaya dan pengembangan event yang lebih ramah pengunjung sambil memperkuat nilai-nilai tradisionalnya.
Dengan adaptasi yang tepat, tradisi berkuda lokal seperti Pasola dapat terus hidup di era modern, menjadi daya tarik budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat di daerah asalnya yakni Sumba.








